Tadi malam, listrik mati lagi. Rumah kami gelap. Hawa panas seketika menyeruak karena kipas angin mati. Ketika itu, aku dan anakku sedang menonton TV di ruang tengah. Anakku merengek karena kepanasan dan, lebih dari itu, takbisa lagi nonton TV. Untunglah aku berhasil membujuknya sembari mengipas-ngipasi wajahnya dengan kipas tangan (bergambar 9 wali). Istriku keluar dari kamar dan membuka pintu belakang rumah agar hawa tak terlalu panas. Lantas, ia duduk di lawang pintu. Sesaat kemudian, ia berujar, "Yah, di luar terang." Aku beranjak dan melongok keluar. Benar memang. Walau bulan belum purnama, dengan bumi ia telah berbagi cahaya. Langit bersih dan indah karena selain ada bulan, ia juga berhiaskan gemintang. Seketika, aku jadi teringat Akira Kurosawa. Tepatnya, Akira Kurosawa's Dreams, sebuah film. Lebih tepatnya, 7 kumpulan film pendek karya sineas kenamaan Jepang: Akira Kurosawa. Aku teringat film terakhirnya yang berjudul "Desa Kincir Air", terutama adegan percakapan antara si pelancong dengan seorang kakek berusia 107 tahun yang sedang membuat kincir.
Pelancong: di sini tak ada listrik? (sesaat setelah melihat lampu minyak yang menggantung di gudang mungil)
Kekek: tak perlu
Pelancong: kalau malam, pasti gelap di sini.
Kakek: memang seharusnya begitu. Kalau malam seterang siang, kita tidak bisa melihat bintang-bintang.
Aku pun menikmati "kegelapan" ini. Menikmati bulan dan bintang-bintang yang lama sudah tak kunikmati sejak kota kelahiranku terkontaminasi limbah cahaya. Kini, di kota lain, di tempatku merantau, aku mendapati kembali kenikmatan itu. Terima kasih, Akira. Terima kasih, Tuhan.






